Kawasan Industri PT JIEP Raih 2 Penghargaan di Ajang TOP GRC Award 2020    I    Kantor Bank BRI Dipadati Warga Yang Mencairkan Dana Banpres Produktif UMKM I   Forum K3L EJIP Siap Berbagi Seribu Masker 










PT Gunze Indonesia, Dominasi Market Lokal Bidang Garmen

Banyaknya jumlah penduduk di Indonesia, berdampak pada kebutuhan pokok seperti pakaian yang tentu saja dibutuhkan oleh setiap orang. Dan tentu saja, bahan dasar pakaian yakni benang, tidak bisa dipisahkan dari helaian pakaian. Dan PT Gunze Indonesia cukup peka melihat peluang tersebut.

Sep 15 2020, 08:05

Banyaknya jumlah penduduk di Indonesia, berdampak pada kebutuhan pokok seperti pakaian yang tentu saja dibutuhkan oleh setiap orang. Dan tentu saja, bahan dasar pakaian yakni benang, tidak bisa dipisahkan dari helaian pakaian. Dan PT Gunze Indonesia cukup peka melihat peluang tersebut. Tidak hanya untuk kebutuhan garmen, namun utk jok mobil . hal itu disampaikan President Director PT Gunze Indonesia, Takeshi Yamada saat ditemui tim Warta EJIP di kantornya beberapa waktu lalu.

“ Membuka plant di Indonesia sudah direncanakan sejak lama, karena kita memprediksi, bahwa pasar di sini bagus, hingga akhirnya kita membuka di sini, tepatnya di EJIP,” ujar Takeshi Yamada. Dijelaskan Takeshi Yamada, dari keseluruhan produksinya, 70% untuk kebutuhan Garmen, dan 30% untuk jok mobil. Dan karena sepertinya kebutuhan jok mobil makin hari makin bertambah, tidak menutup kemungkinan, produksinya akan ditambah. Dan dari seluruh produksi, yang sudah dikerjakan, 70% untuk memenuhi pasar lokal, dan sisanya langsung dikirim ke Head Office, yakni ke Jepang. Namun, meski yang 30% tersebut untuk kebutuhan luar Indonesia (Jepang), namun setelah dikirim ke pusat, nantinya juga akan diekspor ke negara lainnya, seperti China, Taiwan, hingga Vietnam. Dan itu dilakukan sejak lama.

Sementara, Gunze Indonesia berdiri sekitar 1991 silam, yang memang pada saat itu, belum banyak industri ada di tanah air. Namun, karena masih dianggap pasar potensial, perusahaan yang memiliki banyak bidang bisnis lain, seperti di Rumah Sakit dan lainnya itu tetap yakin dengan potensi yang terus positif di tanah air. Untuk produksinya sendiri, per bulan bisa menghasilkan 100 ton, baik untuk kebutuhan garment maupun untuk jok mobil. Dari ukuran terkecil hingga terbesar.

“ Untuk produksi, perbulannya rata-rata kita menghasilkan 100 ton , dari ukuran terkecilnya 80/2 dan terbesarnya 20/4, dan kita menggunakan ukuran dengan sebutan Cone, satu Cone jika dikonversi 5 hingga 7, tergantung tebal dan tipisnya benang.satu cone nya mencapai 500 -700 meter,” tambah Presdir yang dikenal ramah tersebut.

Keunggulan produk dari PT Gunze Indonesia ada di salah satu pruduknya yang bermerk Polina, produk itu adalah benang untuk obras. Yang bahan dasarnya juga sangat berkualitas, dan sebagian adalah impor. Disinggung, apakah ada pengembangan pabrik di luar kawasan EJIP, dikatakannya kemungkinan ada, namun ke wilayah Jawa Tengah. Kemungkinan di sekitar Semarang, atau bisa jadi di daerah Solo dan sekitarnya. Semua masih dikaji, karena membangun plant bukan persoalan yang mudah. Bagaimana lokasi, akses ke luar kawasan, infrastruktur, market dan lainnya.

Disisi lain, hingga saat ini PT Gunze sudah hampir 26 tahun berproduksi di Indonesia dan tetap bertahan hingga saat ini, kiat-kiat yang digunakannya adalah dengan terus meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yakni dengan mengirimkan mereka ke Jepang untuk mendapatkan ilmu (training) yang nantinya digunakan saat mereka kembali ke Indonesia.

“ Selain kita kirim tenaga kerja ke Jepang untuk training, kita juga mendatangkan para tenaga ahli dari sana untuk mengajarkan teknis-teknis yang musti dilakukan para pekerja disini,’ tambahnya. Hal teknis itu diantaranya, cara menggulung benang yang benar dan terukur, serta hal teknis lain yang memang esensinya untuk kualitas produksi perusahaan. Saat ini, di Gunze ada tiga tenaga kerja asal negara Sakura tersebut.

Terkait persoalan yang bisa menganggu investasi di Indonesia, dikatakan Presdir saat sekarang relatif aman dan terkendali. Tidak banyak hal krusial yang menganggu produktivitas perusahaan yang memiliki lebih dari 200 karyawan tersebut. Jikapun ada, mungkin pada saat ada demonstrasi, namun tidak demo di perusahaan setempat, namun secara umum dan dilakukan serentak dan menyeluruh sebagai dampak dari kebijakan pemerintah. Dan artinya, itu juga dialami oleh hampir seluruh perusahaan di Indonesia. Namun, sudah 3 tahun terakhir ini, demonstrasi sudah jauh berkurang.

Sementara, terkait kestabilan harga, perusahaan tersebut tidak terlalu berpengaruh, karena menggunakan mata uang Dollar AS ($). Sejak perusahaan itu berdiri, hingga saat ini tetap menggunakan mata uang tersebut. Dan saat ini memang disetujui oleh Bank Indonesia, karena PT Gunze Indonesia, berada di kawasan berikat. Untuk produksinya sendiri, sebenarnya PT Gunze membeli bahan dasar yakni benang yang seluruhnya berwarna putih. Kemudian, mereka mewarnai sesuai kebutuhan.

Setahun, Cinta Dengan Indonesia

Meski baru setahun tinggal di Indonesia, namun itu sudah cukup membuat seorang Takeshi Yamada mulai cinta dengan tanah air tercinta. Tidak saja karena keramahannya, namun juga makanannya.apalagi yang berbumbu agak pedas, seperti nasi goring, mie goring, dan mie ayam. “ Mie ayam enak, saya suka, banyak makanan yang mulai saya suka disini,” ujarnya yang masih banyak menggunakan bahasa campuran Indonesia dan Jepang. Namun berbeda dengan bahasa, baginya bahasa Indonesia lebih sulit dipelajarinya. Namun, pria yang hobi golf itu terus semangat untuk belajar bahasa ibu di sini. Sehingga, setiap satu minggu sekali, didatangkan guru privat untuk memperlancar bahasa Indonesia. “ Kosa kata yang berbeda dengan bahasa Jepang, jadi agak sulit melafalkannya, “ katanya tersenyum. Dan untuk traveling, karena kesibukan yang masih sangat padat, belum sempat banyak tempat wisata yang dia kunjungi, mungkin masih sekitar wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. Namun yang jelas, wisata favorit seperti Bali akan jadi destinasi berikutnya(ind)

Berita Terkait

No Posts Found